Berburu Milky Way di Waerebo hingga Pulau Bernama Mules - Guesthouse & Homestay Jogja, Purbalingga, Bandungan dan Tegal Pilihan Keluarga

Informasi

Informasi dan Tips-tips

Berburu Milky Way di Waerebo hingga Pulau Bernama Mules

Malam itu kami menginap di rumah yang melingkar di Waerebo. Tak perlu AC karena suhu di sana sudah menusuk persendian. Para turis pun mengikuti bentuk rumah ini yaitu tidur melingkar dengan cahaya yang hanya berpendar dari pelita di dinding. Saya yang begitu lelah sebenarnya gampang sekali tertidur setelah 4 jam trekking.

Tapi rupanya tidur saya jadi tidur ayam karena suara berisik yang bercampur padu dari mendengkur hingga erangan mengeluh tak bisa tidur. Biasanya orang-orang ini biasa tidur di hotel empuk kali ya, sementara di sini kami cuma dikasi kasur lipat dengan selimut ala kadarnya. Ketika tidur saya semakin dalam, mama dan teman saya mengusik tidur saya. Mereka membangunkan karena mau sama-sama melihat milkyway. Saya tentu saja uring-uringan dan mempertanyakan memang ada milky way sehabis hujan. Tapi mereka sama kekeuhnya seperti orang-orang di sini.

Maka saya digeret mereka menuju lapangan di depan rumah ini dan jeng jeng bener kan gak ada apa-apa malah kita kebasahan karena hujan gerimis. Duh, gak ada kan, dan semua pun kecewa. Disebut-sebut jika cuaca bagus di sini memang bisa melihat milky way karena gak ada polusi cahaya di sekitarnya. Hingga keesokan harinya kami sudah harus mempersiapkan diri untuk kembali turun dan meneruskan perjalanan ke Bajawa.

Jadi pagi-pagi benar kami sudah bangun karena hanya ada beberapa kamar mandi jadi kami menghindari mengantre. Tapi sebelum itu, mumpung belum pada bangun maka kami menikmati lagi suasana di Waerebo yang diselimuti kabut tipis, di saat ini foto-foto masih sangat nyaman karena masih sepi hehehe. Setelah semua dirasa siap, kami kembali menuruni bukit menuju mobil kami tapi kali ini lebih cepat karena kami sudah akrab dengan medannya. Saya pun jadi teringat ada lansia umur 60 tahunan yang sukses menaklukan jalur Waerebo ini, saya pikir ibu saya yang paling tua di sana ternyata ada yang lebih tua lagi. Wah gila sih emang.

Dalam perjalanan, jalanan terasa lebih berat karena sisa hujan kemarin sehingga becek dan basah. Kami harus ekstra hati-hati sampai benar saja akhirnya, sepatu teman saya menyerah dan menganga. Di saat ini, si Boy yang memang anak Flores dan sering nganter tamu bolak balik menyerahkan sendal jepitnya, sementara dia menyeker. Wah mantep bener emang si Boy. Saya pun beberapa kali hampir terpeleset, kalau mama saya ga sigap memang tangan saya mungkin badan saya sudah coklat semua hahaha.

Karena jalanan penuh lumpur, kami tidak bisa mendekati mobil kami. Sehingga dipanggil lah ojek untuk mengantar kami sampai mobil kami yang ternyata si Rian, sopir kami, tidur di rumah penduduk ini.

Oia sebelum itu, saya juga mau cerita di perjalanan dari Labuan Bajo kamu menemukan beberapa spot menarik yang bisa jadi tempat ngopi hingga foto cantik. Pertama itu ada tempat kopi di tengah-tengah sawah sesaat kita mulai masuk ke Kabupaten Manggarai jadi Waerebo ini masuk ke dalam kabupaten tersebut. Kabupaten yang paling besar di Flores ini juga punya karakteristik yang unik karena sebagiannya kota sebagiannya juga berupa pesawahan dan pinggir pantai wah keren lah.

Apalagi kopi-kopi di sini mantep gila bikin melek dengan aroma semerbak. Jadi jangan lupa kopi di pinggir sawah, pantai sampai kota. Satu lagi spot yang bisa dimampirin sejenak yaitu pinggir laut yang bisa melihat Pulau Mules. Beneran namanya Mules lucu banget ya kek sakit perut gitu tapi ternyata nama lokalnya itu Molas yang artinya cantik. Iya dari kejauhan aja kelihatan cantik bentukannya. Penasaran sih, lain kali lah kalau ada kesempatan kita main ke sana, katanya sih mau dijadikan tempat wisata. Ya, semoga deh.

Sumber : Thread Kaskus Klik
Sumber Thread : Thread Kaskus Klik

Leave a Reply

Your email address will not be published.