Akankah Sia-Sia Ibadah Tanpa Tauhid? - Info Penginapan/ Guest House Jogja, Bogor, Solo dan Tegal Pilihan Keluarga

Informasi

Informasi dan Tips-tips

Akankah Sia-Sia Ibadah Tanpa Tauhid?

Akankah Sia-Sia Ibadah Tanpa Tauhid?

Homiers, tentu kita tidak ingin apabila telah berusaha semaksimal mungkin dan mengerahkan semua upaya, namun tiba-tiba semua usaha Homiers tersebut sia-sia dan tidak berbuah hasil sama sekali. Tentu Homiers sangat kecewa dan putus asa. Demikian juga dengan amal ibadah Homiers, akan sia-sia dan tidak teranggap tanpa tauhid yang benar.

Hendaknya kita benar-benar dan serius memperhatikan tauhid Homiers. Kita wajib belajar dan wajib tahu apa-apa saja yang menegakkan tauhid, apa-apa saja yang dapat membatalkan tauhid Homiers. Demikian juga Homiers wajib tahu apa yang bisa menambah tauhid Homiers dan apa-apa yang dapat mengurangi tauhid kita, karena tauhid sangat berpengaruh dengan amal ibadah yang Homiers lakukan.

Tauhid adalah kunci ibadah

Tauhid merupakan kunci ibadah, tanpa tauhid ibadah akan sia-sia. Syaikh Muhammad At-Tamimi menjelaskan,

“Ketahuilah, Ibadah tidak bisa disebut ibadah (tidak sah) tanpa tauhid. Sebagaimana shalat tidak bisa disebut shalat (tidak sah) tanpa thaharah (bersuci). Apabila ibadah termasuki oleh syirik maka akan menjadi rusak.”

[Matan Qawaidul Arba’]

Syarat utama diterimanya amalan

Tauhid merupakan syarat utama diterimanya amal. Ini adalah konsekuensi dari syahadat seroang muslim.

1. Asyhadu alla ilaha illallahu (أشهد أن لا إله إلا الله)

Konsekuensinya ialah ibadah kita harus ikhlas kepada Allah.
Tidak boleh riya’, sum’ah beribadah karena ingin dipuji dan dilihat oleh orang lain. Tidak boleh beribadah untuk yang lain semisal menyembah kepada jin.

Sebagai konsekuensi Syahadat “Asyhadu alla ilaha illallahu”, kita harus ikhlas, karena amal dan balasan sesuai dengan niat kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju”.

(HR. Bukhari dan Muslim)

2. Asyhadu anna Muhammad Rasulullah (أشهد أن محمدا رسول الله)

Konsekuensinya ialah dalam beribadah kita harus mengikuti cara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti sesuai dalil dan tidak boleh beribadah dengan sesuatu yang tidak ada ajaran/tuntunan sebelumnya dari beliau.

Sebagai konsekuensi Syahadat “Asyhadu anna Muhammad Rasulullah” harus beribadah sesuai cara dan petunjuk yang disampaikan oleh beliau. Jika tidak, maka amalannya tertolak dan tidak akan diterima.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.”


[HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718]

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Dalam ibadah tidak diperkenankan hanya “berniat baik” saja, akan tetapi caranya juga harus sesuai ajaran dan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, kaidah dalam beribadah:

الأصل في العبادات التحريم

“Hukum asal ibadah adalah haram”

Bahkan sampai ada dalil yang membolehkannya.

Misalnya: shalah subuh itu 3 rakaat haram, 4 rakaat haram, sampai ada dalil yang mengatakan 2 rakaat

Kesyirikan menghapus amal dan membuat amal sia-sia

Sebaliknya Kesyirikan akan membuat amal sia-sia dan terhapus.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”


(QS. Al An’am: 88).

Bahkan Allah tidak akan mengampuni dosa syirik apabila dibawa mati, yaitu melakukan dosa syirik dan tidak bertaubat sampai ia meninggal.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.


(QS. An Nisa’: 48)

Sumber : muslim.or.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *